Header Ads

Jangan Berhenti Pacaran Agar Hubungan Suami Istri Langgeng


KOMPAS.com – Ribut-ribut kecil dalam rumahtangga, jika dibiarkan, bisa berujung pada masalah besar dan vonis perceraian.

Idealnya, saat pasangan memutuskan untuk menikah, keduanya harus telah mengenal karakter satu sama lain dan tidak egois dalam memecahkan masalah.

Sebab, menjaga komitmen mempertahankan pernikahan, kuncinya hanyalah komunikasi dua arah yang baik, toleransi, dan menjaga api cinta dalam hati.

Lalu, ada satu hal lain yang sering terlupakan banyak pasangan suami istri yang telah menikah bertahun-tahun, mereka lupa indahnya masa-masa saat masih pacaran dulu.

Ada baiknya, sesekali atau menciptakan ritual khusus untuk melewatkan waktu berdua saja tanpa kehadiran anak-anak.

Pasalnya, menurut penelitian, pasangan suami istri yang masih rajin makan malam dan nonton berdua saja, terbukti lebih tangguh dalam mengatasi konflik pernikahan.

Hasil penelitian itu berdasarkan survei terhadap 100.000 responden. Sebanyak 88 persen mengaku bahwa pernikahan mereka bahagia semenjak memiliki rutinitas pacaran setidaknya satu bulan sekali dengan pasangan.

“Pacaran merupakan peluang untuk menjaga bara asmara terus menyala. Pacaran memberikan penyegaran pada rutinitas harian yang membosankan,” jelas Pepper Schwartz, PhD., seorang profesor jurusan sosiologi di University of Washington, Seattle, dan penulis buku berjudul The Normal Bar.

Schwartz menyarankan agar pasangan suami istri, terutama yang telah menikah lebih dari lima tahun, untuk menjaga cinta dengan hal-hal yang mengingatkan Anda berdua mengenai apa yang membuat Anda jatuh cinta dahulu.

Studi lain yang dihelat oleh Stony Brook Universty, New York, menemukan bahwa saat Anda dan suami melakukan aktivitas yang berbeda sehingga menciptakan suasana yang fresh, membuat salah satu bagian dari otak yang memproduksi detakan bahagia di jantung lebih aktif.

“Cara-cara sederhana seperti berkencan dengan suami atau istri, merupakan hal simpel yang membuat Anda berdua kembali jatuh cinta,” jelas Arthur Aron, PhD, Profesor dari Stony Brook University.

No comments:

Powered by Blogger.