Header Ads

Militan di Filipina Kembali Penggal Dua Sandera



TEMPO.CO, Jakarta - Milisi pemberontak Filipina yang ingin bersekutu dengan Negara Islam Irak Suriah (ISIS) kembali memenggal dua tawanan.

Kepala polisi provinsi Lanao del Sur, Rustom Duran mengatakan polisi di pulau selatan Mindanao menemukan dua mayat pria tanpa kepala pada Selasa malam, sembilan hari setelah mereka diculik.

"Salvador Hanobas dan Jemark Hanobas dipenggal oleh penculik. Penduduk setempat membawa kepala dan mayat mereka ke kantor wali kota," kata Duran seperti yang dilansir NDTV pada 13 April 2016.

Tidak jelas jika kedua korban ada hubungan. Duran mengatakan, penculik adalah anggota militan Islam yang menentang tentara pemerintah selama seminggu Februari lalu, menyebabkan tiga tentara tewas serta memaksa 20.000 penduduk melarikan diri.

Polisi menemukan bendera hitam yang sama dikibarkan militan ISIS di Irak dan Suriah dalam tempat persembunyian pejuang di kota terpencil Butig di Mindanao.

Duran mengatakan kelompok itu juga telah menculik enam pekerja di bengkel penggergajian lokal pada 4 April, dan menuduh mereka sebagai informan militer. Empat orang kemudian dibebaskan tanpa cedera pada Senin, 11 April 2016.

Pemberontakan separatis Muslim telah terjadi selama lebih dari empat dekade di Filipina selatan, meninggalkan lebih dari 120.000 orang tewas.

Upaya untuk mengamankan kesepakatan damai dengan kelompok pemberontak terbesar, Front Pembebasan Islam Moro (MILF), runtuh setelah parlemen gagal mengesahkan undang-undang untuk menciptakan daerah otonomi Muslim di Mindanao.

Berita tentang pemenggalan kepala terjadi setelah Abu Sayyaf, kelompok militan Islam yang lain, merilis Italia pensiunan imam disandera selama enam bulan pekan lalu.

Militer mengatakan pertempuran masih terus berlangsung dengan pejuang Abu Sayyaf pada Rabu, 13 April 2016, dan korban pemberontak tewas meningkat menjadi 28 orang.

No comments:

Powered by Blogger.