Header Ads

Kevin Sanjaya - Harapan Baru Indonesia


Kevin Sanjaya Sukamuljo/Gideon Marcus Fernaldi merupakan juara ganda putra edisi terbaru turnamen bulutangkis tertua di dunia, All England. Pada gelaran terbaru All England tersebut, Kevin/Gideon mampu mengalahkan Li Junhui/Liu Yuchen dari Tiongkok dengan 2 games (2 set) langsung dan memastikan bahwa dalam tujuh tahun terakhir, 
Tanpa mengesampingkan peran Sinyo –panggilan akrab Gideon–, Kevin banyak mendapat puja-puji selama All England. Kevin yang pada Agustus tahun ini akan berusia 22 tahun menampilkan karakter aslinya. Kevin seperti biasa, tampil dengan gerakan-gerakan tak biasa bagi kebanyakan pebulutangkis. Pukulan di antara kaki, pukulan tanpa melihat, pukulan tipuan shuttlecock out yang memancing emosi lawan, dan selebrasi setiap lawan tidak bisa mengembalikan shuttlecock. Kevin banyak mendapatkan pujian dari sesama atlet, komentator, ataupun penonton baik yang menonton langsung di Birmingham ataupun yang hanya menonton dari layar kaca.
Kevin yang asli Banyuwangi merupakan lulusan Audisi Umum PB Djarum pada tahun 2007. Di klub bulutangkis terbesar di Indonesia itulah, bakat Kevin ditempa.Seperti kebanyakan atlet, Kevin rela masa kecilnya sebagian besar dihabiskan untuk latihan dan latihan. Dianggap mampu untuk berprestasi, Kevin ditarik Pelatnas pada tahun 2013. Di Pelatnas, Kevin mampu menjadi juara di Selandia Baru Grand Prix 2014 bersama Selvanus Geh. Pada tahun 2015, Kevin dipasangkan dengan Sinyo dan sebelum menjadi juara All England Superseries Premier, mereka mampu menjadi juara di Australia Superseries, India Superseries, dan China Superseries Premier. Ketiga turnamen tersebut berlangsung pada tahun 2016.
Sehebat apa pun Kevin, ia tetaplah manusia biasa. Banyak contoh pebulutangkis muda yang prestasinya menurun tajam setelah digadang-gadang menjadi pemain top. Cap “The Next Blablabla” kerap kali sudah disematkan para penggemar bulutangkis Indonesia kepada setiap pebulutangkis yang berprestasi di usia muda.
Masih ingatkah kalian dengan Elyzabeth Purwaningtyas atau kerap disapa Ocoy? Ocoy merupakan peraih medali perak di Kejuaraan Dunia Junior 2011. Ketika itu Ocoy ditaklukkan (calon) ratu bulutangkis Thailand, Ratchanok Intanon di final. Di sektor tunggal putra, Indonesia mempunyai Shesar Hiren Rhustavito. Vito yang kala itu berumur 18 tahun, mampu menyabet medali emas PON 2012 di Palembang. Vito digadang-gadang sebagai penerus Taufik Hidayat yang memang memasuki tahun terakhirnya sebagai pemain bulutangkis profesional. Pada bagian ganda, tengok saja Kejuaraan Dunia Junior sejak tahun 2011. Terdapat dua pasangan ganda campuran Indonesia yang meraih medali emas yaitu, Alfian Eko/Gloria Emanuelle (2011) dan Edi Subaktiar/Melati Daeva (2012).
Di manakah nama-nama itu sekarang? Mereka kesulitan untuk menembus peringkat 10 besar dunia.
Cemerlang saat muda dan meredup ketika dewasa bukan hanya terjadi pada para pebulutangkis Indonesia. Banyak pebulutangkis yang di kala muda berprestasi bagus tetapi gagal menyamakan ritme dengan pebulutangkis yang lain di level senior. Atau kita bisa tengok juara dunia junior, dalam 7 tahun terakhir, berapa banyak yang bisa tembuh 10 Besar Dunia? Mereka adalah contoh nyata dari pebulutangkis muda yang mendapatkan ekspektasi tinggi dari pencinta bulutangkis tetapi layu sebelum berkembang. Tentu, kita tidak bisa hanya menyalahkan para pebulutangkis tersebut.
Kevin tahun lalu mampu menjadi juara di level Superseries Premier, tahun ini pun juga. Jangan sampai Kevin gagal untuk meneruskan prestasinya saat ini. Kevin pasti tidak ingin masuk ke dalam daftar pebulutangkis yang pernah mematahkan harapan-harapan para pencinta bulutangkis Indonesia.
Tetaplah menjaga mewujudkan harapan kami, Kevin!

No comments:

Powered by Blogger.