Header Ads

Fahira Idris Ajak Ormas Keagamaan Tolak Starbucks Karena Mendukung LGBT, Apakah Apple, Instagram, Google, Facebook, Microsoft dan NIKE Harus Kita Tolak Juga?


Howard Mark, CEO Starbucks terang-terangan mendukung dan mengkampanyekan kesetaraan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) lewat Starbucks. Tak terkecuali dengan kedai kopi Starbucks yang ada di Indonesia. 

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris mendesak pemerintah bersikap tegas dengan mencabut izin Starbucks di Indonesia. Selain itu, katanya, harus ada gerakan bersama atau sinergi terutama ormas-ormas keagamaan yang didukung oleh berbagai komunitas untuk mengkampanyekan tidak membeli produk-produk Starbucks sebagai akibat sikap mereka yang mendukung propaganda LGBT dan pernikahan sesama jenis.

"Kita harus bersama-sama kampanye kan itu. Lagi pula kedai-kedai kopi lokal kita yang kualitas sangat bagus yang perlu kita dukung dengan membeli produk lokal," kata Fahira melalui siaran persnya Republika.co.id, Kamis (29/7). Baca juga: PP Muhammadiyah Serukan Boikot Starbucks di Indonesia, Ini Alasannya

Fahira menegaskan, jika perlu ada fatwa organisasi keagamaan yang mengimbau dan melarang jamaah atau anggotanya untuk membeli semua produk Starbucks. Hal tersebut penting dilakukan karena apa yang Starbucks dukung dan kampanyekan, bukan hanya tidak sesuai semua agama yang ada di Indonesia tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

"Saya rasa gerakan ini akan lebih efektif dari pada menunggu sikap pemerintah," ungkap dia.

Sebelumnya, jaringan kedai kopi Starbucks Indonesia memastikan tetap sejalan dengan pihak manajemen pusat Starbucks di Amerika Serikat (AS) yang memberikan dukungan terhadap LGBT.Hal ini disampaikan pihak Starbucks Indonesia menanggapi isu dan permasalahan LGBT yang ramai dibicarakan di publik saat ini.

Marketing Communications & CSR Manager, PT Sari Coffee Indonesia, selaku pemegang lisensi Starbucks Indonesia, Yuti Resani, mengatakan pihaknya tetap menghargai keragaman dan kesetaraan dan berkomitmen sejalan dengan kebijakan manajemen Starbucks. 

Sementara itu selain Starbucks terdapat 6 perusahaan besar dan ratusan perusahaan lainnya yang mendukung LGBT. Keenam perusahaan itu antara lain,  Apple, Instagram, Google, Facebook, Microsoft dan NIKE.

1. Apple

"Apple sangat mendukung kesetaraan pernikahan dan kami menganggapnya sebagai rights issue sipil. Kami memuji Mahkamah Agung untuk keputusan hari ini...," kata juru bicara Apple, Steve Dowling.

Apple juga telah menambahkan ikon emoji untuk kesetaraan gender dan menyumbangkan 100 ribu dolar AS untuk kampanye melawan kelompok yang menolak pernikahan sesama jenis.

2. Instagram

"Hari ini, Mahkamah Agung Amerika Serikat menjatuhkan keputusan penting membatalkan Defense of Marriage Act, undang-undang pembatasan pemerintah federal atas pernikahan sesama jenis. Peristiwa bersejarah ini sedang didokumentasikan di Instagram oleh ribuan orang yang berkumpul di depan Mahkamah Agung--beberapa bahkan berkemah sepanjang malam--mendengar keputusan, yang diumumkan tak lama setelah 10 am ET," tulis dalam pernyataan resmi Instagram yang diunggah pada 26 Juni 2013.

3. Google

Setelah MA Amerika mengumumkan keputusan melegalkan pernikahan sejenis di AS, Google sempat merilis dukungannya terhadap LGBT dengan kotak pencarian yang berwarna pelangi. Selain itu, ketika pengguna mencari kata "Gay" dengan sendirinya pencarian tersebut ditempatkan di kota khusus berwarna pelangi.

"Google sepenuhnya mendukung hak yang sama bagi semua," kata juru bicara Google.

4. Facebook

Sehari setelah legalisasi pernikahan sesama jenis disahkan di AS, Facebook meluncurkan emoticon pelangi untuk menunjukkan kebanggaan bagi pengguna Facebook yang LGBT. Bahkan, raksasa media sosial ini meluncurkan hashtag #PrideConnectsUs untuk membantu pengguna Facebook yang LGBT menunjukkan kebanggaan mereka, bahkan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, menggunakan hashtag tersebut.

"Sekitar 70 persen dari pengguna Facebook di AS terhubung ke seorang teman yang telah tegas mengidentifikasi diri mereka sebagai gay, lesbian, atau biseksual pada timeline mereka," dilansir dari Huffingtonpost, 27 Juni 2013 lalu, yang di- update kembali pada 2 Februari 2016.

5. Microsoft

"Keputusan hari ini membalikkan halaman lama hukum yang membuat lebih sulit bagi kita untuk memperlakukan semua karyawan, tanpa memandang orientasi seksual, sama-sama. Microsoft bergabung dengan puluhan perusahaan, organisasi, dan pemerintah dalam mendukung tantangan untuk DOMA (Hukum Pernikahan AS), karena biaya yang signifikan dan beban administrasi itu dikenakan pada pengusaha dan karena mengganggu upaya kami untuk mempromosikan keragaman dan kesempatan yang sama di tempat kerja," dalam pernyataan resminya.

Microsoft ikut mendukung keputusan MA Amerika yang akhirnya melegalkan pernikahan sesama jenis. Di perusahaan Microsoft sendiri memiliki perkumpulan karyawan yang tergabung dalam GLEAM (Gay dan Lesbian Karyawan Microsoft), yang telah diakui perusahaan sejak 1993. 

6. NIKE

"NIKE, Inc, telah lama mendukung pengakuan sipil terhadap sesama jenis pernikahan, kemitraan domestik dan tempat kerja tanpa diskriminasi, dan kami senang Mahkamah Agung telah memutuskan mendukung kesetaraan hak perkawinan sesama jenis. NIKE, Inc., mendukung dan menandatangani koalisi bisnis singkat amicus, menentang Defense of Marriage Act karena kita adalah perusahaan yang berkomitmen untuk keragaman dan inklusi, dan kami percaya semua karyawan harus diperlakukan sama. Dalam pernyataan resmi perusahaannya.

Tujuh perusahaan terkemuka tersebut hanya sebagian dari beberapa perusahaan multinasional di AS yang dengan terang-terangan memberikan dukungannya terhadap LGBT.

Setidaknya, ada 20 perusahaan lain yang ikut dilansir Huffingtonpost, yang mendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis. Di antaranya, e-Bay, MasterCard, produsen pakaian bermerek GAP, Banana Republic, Levi Strauss & Co., Perusahaan makanan Ben & Jerry's, Jet Blue, AT&T, Johnson & Johnson, Ernst & Young, Mondelez International (Produsen Oreo), Marc Jacobs, UBS, Citi, Orbitz, Cisco, Goldman Sachs, Marriott International, Moody's, dan Expedia.

Apakah kita harus memboikot seluruh perusahaan itu? Mari kita renungkan masing-masing. (repulika)

No comments:

Powered by Blogger.