Header Ads

Ampun Jenderal...!! Tulisan Warga Sumut Ini Kritik Keras Pembawa Isu Agama Di Pilkada Sumut


Dari Pilkada Gubsu (2):
AMPUN, JENDERAL....!

Sumatera Utara itu provinsi yang besar. Dan hebat. Bagaimana tidak besar? Ada 33 kabupaten dan kota madya. Bagaimana tidak hebat? Sumatera Utara itu pioner dan tonggak kemajuan-kemajuan peradaban ekonomi di negara ini.

Tembakau Deli yang dikagumi dunia itu berasal dari daerah ini. Awal perkebunan-perkebunan besar dan modern karet dan kelapa sawit di sini. Sejarah perminyakan di Indonesia juga diawali di Pangkalan Brandan. Dari 2 abad lalu (1800-an) ekonomi peradaban Sumut sudah hebat.

Tapi ada satu lagi kehebatan yang bikin aku bangga kali pada Sumut. Provinsi ini benar-benar daerah multi-etnik dan multi-ras. Penduduk kota Medan itu campur-aduk Cina, Jawa, aneka Batak, Melayu, Minang, Aceh, sampai India. Senang tinggal di Medan itu. Full colour, rame.

Di hampir seluruh wilayah Sumur penduduk campur aduk. Di Pematang Siantar itu Batak Simalungun, Toba, Samosir, Karo, dan Batak lain, Cina, Jawa, berbaur. Kesannya kota ini keras, marragam-ragam. Tapi rukun-rukun aja dari dulu.

Bukan omong-kosong Sumut itu daerah toleran-pluralis. Tahun 2017 lalu, Setara Institute bekerja sama dengan Unit Kerja Presiden Pengamalan Ideologi Pancasila (IKP-PIP) melakukan penelitian indeks toleransi di 94 kota di Indonesia. 3 kota di Sumut masuk dalam 10 kota paling toleran, yaitu Pematang Siantar (nomor 2), Binjai (nomor 6), dan Tebing Tinggi (nomor 9). Oya, kota paling toleran adalah Manado. Sementara kota yang indeks toleransinya paling rendah Jakarta.

Ini bukan indeks bohong-bohongan. Dalam penelitian Setara Institute tahun-tahun sebelumnya Pematang Siantar justru meraih indeks toleransi nomor 1. Kota Sibolga kota toleran nomor 10. Oya, toleransi ini tentu termasuk dalam hal agama. Sumut itu keren, pokoknya.

Karena itu, aku merasa sedih dan geram ketika di Sumut mulai muncul gerakan-gerakan permusuhan bermuatan agama. Contohnya ketika ormas FPI melakukan demo/swiping memprotes restoran-restoran BPK (Babi Panggang Karo) di Deli Serdang, 22 Juli 2016 silam.

Alamak... apa pulak ini? Hantu belau dari mana ini? Ini bukan gaya dan warna Sumut. Ini rasionalitas ngawur. Mestinya masing-masing orang menjaga apa yang boleh atau tidak boleh ia makan. Bukan mengatur apa yang boleh tidak boleh dimakan orang lain. Pukimak dan pucikrit kali kali rasanya.

Karena itu pula lah aku sedih kali, ketika dalam proses Pilkada Gubsu sekarang ini, melihat materi-materi kampanye berbau sentimen agama, seperti 2 gambar poster dibawah ini. Materi poster dan nama ormas GNPF itu sangat kentara kali menunjukkan peniruan isu dan pola Pilgub DKI tahun lalu. Isu dan pola pertarungan Pilkada yang menyedihkan, yang tak seharusnya terjadi di negara yang dasarnya Pancasila dan bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Saya selalu menganggap TNI dan Polri adalah lembaga terbaik di negara ini dalam hal sistem dan mekanisme kaderisasi. Seseorang tak mungkin naik pangkat dari prajurit ke perwira tanpa prestasi, pelatihan, dan pendidikan. Seorang perwira tidak mungkin melewati pangkat Kolonel (Komisaris Besar) ke bintang (jenderal) tanpa ujian prestasi dan kemampuan istimewa.

Dalam konteks itu saya menilai Edy Rahmayadi, calon gubernur yang ada di poster dibawah, jelas adalah seorang putra terbaik bangsa. Ia putra Aceh berpangkat Letnan Jenderal, terakhir menjabat Pangkostrad. Tidak sembarangan. Hanya sedikit putra bangsa yang mencapai bintang tiga dan memegang jabatan TNI setrategis itu.

Karena itu, saya sangat berharap Pak Edy dan pasangannya tidak membawa isu, materi, dan nuansa kampanye bermuatan SARA. Sebagai kader istimewa pemegang Sumpah Prajurit dan Sapta Marga, yang cinta bangsa dan negara, Pak Edy pastilah mengerti maksud saya.

Mengusung isu kampanye populis seperti ini, mungkin bisa berhasil, bisa tidak. Tapi, berhasil atau gagal, akan menimbulkan perpecahan atau permusuhan yang tidak mudah direkatkan kembali. Sudah banyak contoh dan buktinya, di dunia maupun di negara kita. Menyedihkan. Karena itulah kepala negara, banyak tokoh dan ahli di negara kita menyarankan tidak mengusung isu populis, suku, ras, dan agama dalam Pilkada.

Saya percaya Pak Edy, paslon, dan tim suksesnya bisa dan memiliki visi-misi yang rasional, cerdas dan visioner. Jujurnya saja, nuansa koruptif di Sumut itu sudah parah, di provinsi maupun kabupaten-kabupaten dan kota madya. Sumut itu butuh Gubernur yang tegas dan jujur. Yang ingin membuat Sumut jadi hebat lagi. Sudah cukuplah rakyat Sumut merasa malu, dua gubernurnya masuk penjara karena kasus korupsi.

Itulah catatan dan pesan saya pribadi untuk Paslon Edy Rahmayadi – Musa Rajeksah (maaf, yang ini saya sama sekali tidak kenal). Ampun, Jenderal! Kita semua cinta Sumut. Kita ingin, siapapun yang menang, Sumut itu tetap jadi provinsi yang keren. Provinsi yang besar dan hebat, yang pluralis dan toleran. Bersatu kita teguh, terpecah-belah kita runtuh...!

Horas! Manjuah-juah. Njuah-juah. Yahowuu... !

Sumber : Akun Facebook Nestor RicoTambunan 

No comments:

Powered by Blogger.